Selasa, 09 Juni 2015
Namanya, Fadendi Hutama.
Saya tidak termasuk golongan awam dalam menjalin kasih. Pernah ada beberapa pria yang masuk ke hidup saya, mewarnai serta saya pertahankan mati-matian. Namun dia, saya tak hanya pertahankan mati-matian. Tapi juga saya dedikasikan hidup saya untuk dia, saya korbankan zona nyaman saya, pergi jauh dari kampung halaman untuk menyambung mimpi bersama. Hubungan yang saya lalui beserta seluruh alur berkeloknya saya jalani dengan satu visi, menuju jenjang selanjutnya. Saya sudah tua, apalagi yang harus saya lakukan untuk membahagiakan orang tua saya, selain memberikan mereka kejutan manis dan air mata haru mereka yg terakhir untuk melepas saya dan mempercayakan anak kecilnya kepada laki-laki tampan yang selalu bekerja keras dalam hal apapun, Fadendi Hutama. Saya mengenalnya Tahun 2012. Suatu pertemuan singkat di anak tangga salah satu hotel di Malang. Cuma sapaan biasa. Tapi dari pertama lihat, yang buat saya suka ya senyumnya, ramah sekali, menentramkan. 2 Tahun sjak saat pertama bertemu kita tidak pernah berkomunikasi sama sekali karena sibuk menjalani hidup masing-masing. Tahun 2014, saat itu bulan ramadhan, pagi2 line saya bunyi, kagetlah saya. Fadendi Hutama mengirimi saya pesan untuk pertama kali. Dia orang yg hangat. Maka dari itu saya habiskan hari-hari saya bertemu dengan nya lewat line. Suatu ketika tanpa ada tanggal yg pasti dia mulai memanggil saya dengan sebutan "sayang". Kita mulai hubungan ini dengan bismillah. Saya bahagia. Sungguh bahagia. Sosok orang yg lemah lembut, hangat ada di depan saya. Saya tipe orang yg tidak suka laki-laki kasar. Maka dari itu sosok dia buat saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Kita alami pasang surut hubungan. Saya memaklumi hal tersebut sbg proses adaptasi. Dia menemui saya di Palembang ditengah waktu sibuknya. Akhirnya itu yg membuat saya yakin. Saya harus bersama orang ini. Saya kayuh sekuat tenaga seluruh upaya saya untuk merangkul mimpi di Ibu kota, kota kelahirannya. Seluruh jenis pekerjaan saya ikuti tesnya hingga akhirnya impian saya terwujud. Saya ada disini. Saya sempatkan dalam hati berniat, akan saya luangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk dia, sebagai balasan atas ketabahannya menjalani hubungan ini dengan saya, sosok yg tidak ada apa-apanya. Saya bukan tipe orang yg mudah minta maaf, tapi ketika saya bertemu dengan dia, saya usahakan untuk menurunkan ego saya. Orang bilang saya bodoh, tapi saya bilang itu cinta. Lalu mereka mau bilang apa ?. Dalam doa tak pernah saya lupa untuk meminta ridho Allah atas hubungan ini. Kejadian yg jarang sekali terjadi, ibu saya pun mampu bercerita banyak kepada pacar saya ya hanya dengan dia saja. Tuhan, selalu jaga hatinya, hatiku dan ridhoilah setiap langkah kami. Jangan sampai kebahagian kami membuat kami lupa bahwa engkau yg mempersatukan hingga kau cabut kembali kebahagian itu. Amin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar